
Macheisme, News - Preses Seminari Menegah Yohanes paulus II labuan bajo, Romo Robertus Pelita, Pr dalam Orasi demo tolak Tambang di kantor bupati Kabupaten manggarai barat (mabar) pada (13/6) kemarin menesakan Ada sebuah bentuk pembuhuhan yang sangat kejam dan sajis yang mencemaskan masyarakat dunia saat ini. Bentuk pembuhuhan itu katanya adalah perusakan lingkungan hidup dari berbagai aktifitas pembanguanan yang tidak berwawasan lingkungan. Pasalnya tindakan kerusakan lingkungan sebagai bentuk pembunuhan yang paling sadis, kejam dan mengancam masyarakat dunia
Bagi romo Robert peerusakan lingkungan di salah satu wilayah maka dampak dan bahayanya bukan hanya dialami oleh warga yang berdiam di wilayah itu tapi dirasakan oleh masyarakat yang berada di tempat lain bahkan di rasakan oleh masayarakat dunia. ”Dampak dari perusakan lingkungan tidak mengenal batas wilayah” tegasnya
Ditegasakan Romo Robert Apabila peruk bumi di bongkar dan di keruk oleh alat alat pertambangan maka yang tersisa kemudian hanyalah lubang lubang karam yang mengaga bagai raksasa yang siap menelan nyawa dan lokasi ini tidak mampu menyerap dan menyimpan air maka sumber mata air yang di miliki warga Tabado desa Pota Wangka kecamatan Boleng akan mati dan tidak lagi mengaliri ke sungai wae mese. ”Debit air sungai wae mese akan berkurang dan tidak mampu lagi mengairi persawahan dalong, Satar Walang, Ngorang dan merombok. Perusakan alam tabado oleh perusahaan tambang sekaligus menghancurkan sendi perkonomian bahkan menghancurkan ribuan warga di tempat lain” jelasnya
Sementara itu apa dampaknya bagi rakyat Tabado katanya adalah kehilangan lahan garapan yang subur dalam waktu ratusan bahkan ribuan tahun. Kehadiran tambang di Tabado selain untuk merugikan diri kita yang hidup di massa sekarang juga sekaligus membawa penderitaan bagi generasi yang belum terlahir. Dengan menghancurkan lingkungan di wilayah Tabado maupun di beberapa tempat lain berarti secara tidak langsung kita sedang memproklamirkan diri sebagai pembunuh berdaya dingin yang paling sadis, kejam, tragis karena kita membuhuh bagi generasi generasi kemudian. ”jika kita tidak mau di sebut pembuhuh berdara dinggin selamatkanlah lingkungan hidup kita dari pertambangan”.
Disamping romo robert juga menegasakn lingkungan hidup adalah penyokong dan penopang kehidupan manusia dan makluk lainnya. Karena menjadi penopang kehidupan maka lingkungan hidup merupakan ibu segala makluk. Tindakan perusakan lingkungan seperti pertambangan berarti merusak rahim ibu segala makluk termasuk Manusia. Menyadari hal ini masyarakat dunia katanya menjadikan issu lingkungan hidup sebagai issu nomor satu di Dunia mengalahkan issu Ham.
Di depan para pejabat Pemkab Mabar Romo Robert menegaskan Orasi orasi yang di bawahnya tersebut merupakan sebuah seruan untuk memberikan pencerahan. Karena merupakan seruan pencerahan Kata Romo robert maka tidak dapat di benarkan bahwa seruan tersebut bersifat profokatif dan Gereja Katolik tidak menjadi prokator sebagamana di tuduhkan oleh pribadi pribadi yang berpikiran picik, pribadi pribadi yang tidak mengindahkan demokratis
Kepada Pejabat Pemkab Mabsar ditegasaknya Keterlibatan komisi JIPC keuskupan Ruteng khusunya para Pastor dalam gerakan tolak tambang jauh dari tunggangan kepentingan politik. Gereja di Manggarai bahkan di NTT khususnya para pastor terus melakukan penolakan terhadap pertambangan di flores dan Lembata. ”tidak hanya di Mabar Pastor melakukan gerakan Tolak tambang tapi di semua wilayah NTT” jelasnya
Penolakan Gereja terhadap kehadiran pertambangan di Mabar Kata Romo Robert sangat beralasan. Pihaknya elah mengkaji aktifitas pertambangan diberbagai tempat dan mendapatkan aktifitas pertambangan telah mematikan berbagai sendi sendi kehidupan masyarakat terutama masyarakat kecil dan masyarakat yang tertindas, bukan hanya itu bahkan juga telah merengut nyawa manusia. ”Tambang Manggan di sirise I dan II di kecamatan Reo Kabupaten Manggarai telah menjadi bukti untuk kenyataan ini .
Keterlibatkan Gereja dan Para Pastor juga telah dimandatkan oleh Guru Yesus Kristus dan telah ditegaskan kembali dalam konsili vatikan ke II, konstitusi pastoral, Gadium et spes pada bagian pendahuluan secara tegas menyatakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan, orang orang jaman ini terutama kaum miskin dan siapa saja yang terpingirkan merupakan kegembiraan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Dan salah satu kecemasan yang di lihat oleh murid kristus saat ini katanya adalah keselamatan manusia oleh kehancuran lingkungan hidup. ”para Pastor terpangil untuk menyelamatkan Ligkungan hidup, Bukan Profokator yang merusak tatanan pembangunan di Mabar, sebagaimana di ungkapkan pribadi pribadi yang menyesatkan” tegasnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar