Kamis, 02 Juli 2009

Pemkab Mabar berselingkuh dengan perusahaan Pertambangan


Macheisme, News - Direktur Yayasan Komodo Indonesia (Yakomindo) Yoseph Mikael Da Putra menuding Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sedang melakukan perselingkuhan dengan pihak perusahaan pertambangan. Perselingkuhan ini katanya terlihat ketika Pemkab mabar dengan getolnya membela perusaahan saat disoroti oleh berbagai LSM lingkungan hidup. Bahkan pemkab mabar meyebarkan mits mitos yang meyesatkan.

Mitos mitos yang dimaksudakan Da putra diantaranya pertambangan dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Menurtnya pertambangan juga bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat di lokasi tambang. Orang tidak bisa menyangkal hal itu. Ibarat orang desa ditawar roti, pasti mereka akan terima makan roti di samping makan nasi. Tapi sebelum ada penawaran roti mereka tidak makan roti dan bisa hidup tanpa roti. Demikian juga dengan pertambangan.

“Selama ini mereka tetap bisa bekerja dan hidup tanpa tambang. Selain itu, kita tidak bisa menciptakan lapangan kerja yang pada saat yang sama menghancurkan kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan hidup mereka. Upah Rp 40.000 sehari tidak ada bandingannya dengan kerusakan alam mereka untuk beratus-ratus tahun kemudian tanpa bisa dikembalikan lagi kesuburannya untuk pertanian” jelasnya

kata Da Putra penguasa dan para kapitalis sering berpropaganda bahwa tambang bisa memberikan efek ganda. Menurut Pemkab Mabar, tambang akan menimbulkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dapat menetes ke bawah atau masyarakat dengan terciptanya usaha-usaha pendukung dalam suatu rangkaian kegiatan ekonomi dari hilir ke hulu. Sehingga akan tercipta efek ganda, menggairahkan bisnis pengusaha lokal dan mau terjun ke dalam bisnis tersebut saat ini dan di masa depan.

Pandangan Pemkab Mabar ini menurut Da Putra sangat berbeda dengan kenyataannya. Menurutnya mata rantai tata niaga tambang sangat pendek, butuh teknologi tinggi, SDM berkeahlian tinggi, modal besar, barang-barang kebutuhan tambang juga datang dari luar lokasi tambang. Maka sangat sedikit orang atau pengusaha lokal terjun ke tambang. Padahal kalau kembangkan investasi di bidang pertanian atau perkebunan atau pariwisata, akan lebih banyak orang bisa melibatkan diri.
Daputra menegaskan bangsa Eropa dan Amerika yang sudah berperadaban maju sibuk menanam pohon, menjaga kebersihan sungai dan laut demi kesehatan dan berlangsungan hidup manusia di muka bumi, Pemkab Mabar malah bergerak sebaliknya. Ditegasakannya dunia internasional sedang prihatin akan pemanasan bumi secara global dan krisis ekologi, pemkab Mabar sebaliknya malah menghancurkan ekologi yang sudah kritis. “Kita membunuh generasi-generasi berikut dengan menghancurkan alam sebagai penopang kehidupan hanya karena tergiur oleh keuntungan peningkatan pendapatan per kapita dan PAD sesaat” Keluhnya
Lebih lanjut di kata Da Putra pandangan tentang pertambangan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) tidak bisa disangkal kebenarannya. Tapi pendapatan perkapita dan PAD tidak bisa ditempuh dengan merusakkan alam, lingkungan dan kehidupan pada umumnya. Baginya PAD dalam jumlah ratusan juta dan mungkin juga sampai berjumlah milliar rupiah setiap tahun tetap tidak sebanding dengan kerugian karena kerusakan alam untuk selama-lamanya.
“Mata air bisa menjadi kering, hutan dibabat, sungai dan laut tercemar limbah toxic, ikan dan binatang melata yang menggantungkan hidupnya pada air bersih akan mati, para nelayan tidak bisa melaut dan pergantian musim akan tak menentu karena hutan semakin hilang. Para petani bisa gagal panen dan beberapa dampak lainnya” jelasnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar