Bis Satar Mese jurusan Ruteng-Ende itu lari hanya 60 km per jam. Padahal hari-hari biasanya lari di atas 100 KM per jam. Si Saul sopir asal Were itu tidak bisa berbuat banyak dengan bus yg terbilang masih baru itu. Siang itu empat puluh penumpang laju di atas roda empat dan tidak ada penumpang bangku tengah; semuanya terisi dengan karung dea milik Fidelo yg pulang libur dari tanah kelahirannya di ujung barat pulau nusa bunga.
Si Fidelo, lelaki usia 50-an thn, loke nggera/bakok/ dan sa'in agak GEGE sedikit, satu dari 40-an penumpang bis milik lawa mangga diaspora yg sukses di tanah Lio. Sesak, sumpek, pengap dan panas dalam bis itu namun saat bersamaan seluruh penumpang merasakan LAWER DEA woja uma produksi dise ame sale mai Orong Lembor.
Kole la'at ase ka'e'n ata cau Likang agu Sapo sale beo'n hi krg Bakok. Karung Dea woja uma REDENG/Widang le ase ka'e'n saat DIA pamit pulang ke tanah rantau; awo ata pupu.
Pola le run DEA du hitu nang le Pa'ang Beo karena menurut aturan adat setempat Otto atau JARANG LETI harus berhenti di Pa'ang kalaupun terpaksa masuk NATAS harus dituntun. Nah karena Otto tidak bisa dituntun ke NATAS mk terpaksa stand by olo pa'ang.
Pagi itu Otto Haju Kalo de Nona Limpang awo mai Wae Locak menjemput rombongan Fidelo dan keluarganya, sua mongko reak molas, nggera do'i Bapa'd, sedikit JENGGER wuk'd tapi sopan, sederhana, ngga sombong dan baik hati. Lawa ca natas ngo podo ise olo pa'ang beo.
Ronak taung's wae lu'ud ata podo situ le pa'ang saat menyaksikan rombongan Fidelo sekeluarga satu per satu naik ke atas otto kalo hitu dan perlahan-lahan meninggalkan beo Orong menuju Ruteng;
Toko ca wie's awo Ruteng dan keesokan harinya Bis Satar Mese menjemput keluarga Fidelo di Tulung Ruteng, untuk selanjutnya menuju Aimere Ngada. Jam 12 Siang bis itu berhenti di ujung dermaga Aimere. Kapal fery jurusan Aimere - Kupang itu mengangkut ribuan orang yang berasal dari Manggarai dan Ngada. Pola kole karung dea'n hi Fidelo masuk ke tangga fery; toe manga ata'n ta campe hia, sender le'as koe'n eta lobo kursi fery sambil pasur sa'in yg penuh dengan keringat, baca taung sapu tangan bakok wajo le lap NOLAK mana keta ronco wae. Beti taung le'as mese'n, urut le ha'e kilo,n di tengah malam laut sawu yg ganas itu. Perjalanan Aimere-Kupang di tempuh beberapa hari lamanya; lama lengkus taung penumpang akibat hempasan ombak laut Sawu sebagai sentrum kegiatan ekonomi 3 pulau besar : Timor, Flores dan Sumba tapi kenyataanya tidak demikian.
Tak terasa ferry itu bersandar di pelabuhan Teno Kupang. Rombongan Fidelo turun satu per satu di tengah antrean penumpang yg keluar dari fery. Lima karung beras milik keluarga Fidelo itu diangkut KONJAK sebuah bemo yg menjemput keluarga Fidelo dan tancap gas menuju rumah dinas dua air karena saat itu Fidelo yg sederhana kalau tidak disebut MISKIN itu menduduki jabatan kepala di suatu dinas pemerintahan kota Kupang;
Tapi beberapa tahun kemudian, ketika Si Bakok menjadi Raja di sebuah negeri impian turis lokal dan manca negara, KARUNG DEA woja uma PRODUKSI petani kecil, sederhana, lugu, miskin, terpinggir dan tersudutkan HAMPIR tidak pernah dilirik lagi oleh si Fidelo padahal ia adalah anak seorang petani WOJA UMA yg ia pikul beberapa thn sebelumnya; KINI IA mabuk asmara dengan TAMBANG yg justru melukai hati para petani yang membesarkan Ia;
FIDELO sungguh keterlaluan kau e ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar