Rabu, 18 November 2009

Bela Diri

“Memberi diri” adalah sebuah ungkapan klasik dan galib. Namun, ungkapan ini akan menjadi sebuah ekspresi cinta terluhur ketika diungkapkan atau diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Sapardi Djoko Damono pernah menulis: “Aku ingin mencintaimu, sederhana saja, seperti kayu memberi diri pada api, lalu dibakar menjadi abuh; seperti awan meberi diri pada hujan, lalu menjadi tak ada”.

Yesus, lewat kisah seorang janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkah hidupnya di Bait Allah, ingin mengajar para penginkut-Nya, semua jemaat Kristen, tentang hal pemberian diri ini.

Suatu hari di Bait Suci Yerusalem, setelah mengajar dan berdiskusi dengan imam-imam kepala, ahli-ahli taurat, tua-tua dan khalayak umat Yahudi tentang asal kuasa-Nya, peran para pemimpin agama sebagai penggarap kebun anggur Tuhan, hal membayar pajak kepada kaisar, perkara kebangkitan sesudah kematian, hukum utama, dan hubungan-Nya dengan Daud (Mrk. 11:27-12:37), Yesus duduk (beristirahat) di suatu sudut ruangan Bait Allah sambil memperhatikan semua umat yang masuk ke dalam tempat suci itu untuk berdoa dan memberikan persembahan.

“…Yesus duduk menghadap peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka, dipanggil-Nyalah murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: sesungguhnya janda miskin ini meberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan ini”, (Mrk. 12:41-43).

Seorang janda miskin memberi derma lebih banyak daripada orang-orang kaya?
Kemiskinan seorang janda adalah kemelaratan. Suatu kondisi di mana sama sekali tak terpenuhi pelbagai kebutuhan hidup yang seharusnya ada. Atau, kalaupun ada suatu, itu semata-mata untuk bertahan hidup selama sehari atau hanya untuk beberapa jam. Sang penginjil Markus mengisahkan bahwa janda yang dilihat Yesus di Bait Allah itu mempunyai uang sebanyak dua peser atau satu duit.

Peser adalah mata uang Yahudi yang mempunyai nilai terkecil, yakni sebesar setengah duit. Dan dua peser atau satu duit yang dimiliki janda itu menurut Matius 10:29 adalah harga dari dua ekor burung pipit. Mungkin janda itu baru saja mendapat kemurahan dari seseorang yang bersedia mempekerjakannya di ladangnya atau di rumahnya, lalu membayarnya dengan uang sebesar itu. Namun menariknya, uang hasil perolehan janda miskin itu tak disimpannya sebagai persediaan untuk membeli makanan untuk dirinya pada hari-hari selanjutnya, terutama kalau tak ada lagi orang yang mau mempekerjakannya dan membayarnya. Ia mempersembahkannya di Bait Allah tanpa cemas akan apa yang akan dimakannya nanti. Ia mendermakan semua uang miliknya, yang adalah nafkah hidupnya untuk hari berikutnya.

Di sini, uang dua peser yang didermakan janda miskin itu sebenarnya sebesar hidupnya sendiri. Sebab, dengan mendermakannya, ia pasti tak punya apa-apa lagi untuk menafkahi hidupnya. Ia telah mengorbankan dirinya. Karena alasan ini, Yesus lalu mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa janda miskin itu memberi lebih dari semua orang kaya.

Membaca dan merenungkan kisah persembahan janda miskin itu, kita tentu saja bertanya-tanya dalam hati, bagaimana mungkin janda miskin itu bisa melakukan tindakan senekat itu; memberi tanpa memperhitungkan dirinya sendiri?
Hakikat manusia sebagai makhluk sosial, yang akan selalu hidup berdampingan dengan orang lain untuk saling melengkapi dan memenuhi kebutuhan masing-masing, memungkinkan manusia untuk saling memberi. Karena itu, berbicara tentang hal memberi tentu saja lumrah. Namun soal memberi tanpa memperhitungkan kebutuhan diri sendiri, atau bahkan memberi diri adalah bukan perkara biasa. Ini soal iman.

Beriman berarti menaru seluruh kenyamanan diri pada Tuhan. Dan iman dalam pemahaman seperti ini telah sungguh dihayati dan diwujudnyatakan seorang janda miskin, sebagaimana cerita Injil Markus. Dalam kemelaratannya, ia sungguh percaya kepada Tuhan, bahwa dalam Tuhan ia akan tetap hidup meskipun banyak persoalan melilitinya. Ia mempunyai keyakinan bahwa memberi kepada Tuhan adalah investasi untuk hari esok. Karena itu, ia telah mempersembahkan seluruh nafkah hidupnya kepada Tuhan tanpa cemas dan tanpa menyisakan sedikitpun untuk dirinya.

Realitas dunia dewasa ini memperlihatkan secara sangat jelas, bahwa semakin maju peradaban, manusia semakin tidak mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Penemuan-penemuan dalam bidang teknologi dan pelbagai bidang keilmuan membuat manusia merasa sangat yakin, bahwa seluruh persoalan hidupnya dapat teratasi dengan hasil penemuannya itu. Manusia mulai menaru keyakinan kepada hasil karyanya, sibuk bekerja dan berbisnis sampai mengabaikan dan meninggalkan Tuhan.

Lantas, manusia modern menjadi orang-orang milik waktu dan mesin. Bahkan, pikiran mereka pun tak bisa menjadi milik mereka. Sepanjang saat, ia berputar-putar bersama mesin yang terus mencetak atau mengebor. Atau kadang ia berjalan jauh, pergi bersama distribusi produk menuju tangan pelanggan; dan kadang juga ia berputar-putar tanpa arah, mencari-cari cara untuk memperlancar aliran dana yang kandas, entah karena sengaja ditilep rekan kerja atau kandas di tangan peminjam, yang masih enggan membayar meski sudah rutin ditagih tiga kali seminggu. Aneka kesibukan ini lalu membuat manusia jadi terasing dari diri sendiri dan keluarganya. Ekspresi dirinya menjadi tak sedap dipandang karena terkesan badan dan pikirannya berjalan berlawanan arah. Kalau tiba di rumah, kelihatan tanpa gairah, kalau disapa hanya senyum-senyum kecil atau menjawab seadanya. Dan kalau makan bersama keluarga, sekali senduk nasi diayun, beberapa kata kesal dan kecewa karena ulah rekan-rekan di tempat kerja terucap.

Pada taraf ini, manusia sedang “menjanda”, menjadi seseorang yang tak punya apa-apa dan siapa pun. Ia bahkan kehilangan Tuhan dan dirinya sendiri. Selain itu, hal pemberian diri sebagaimana diikrarkan dalam janji perkawinan menjadi awamakna. Alih-alih mencari dan mengumpulkan kekayaan untuk orang-orang tercinta, ia sampai lupa memberi apa yang paling berharga dan paling berarti bagi orang-orang kecintaanya, yaitu dirinya, perhatian dan cintanya.

Sering terjadi bahwa karena orang tua terlalu sibuk, anak-anak hanya ditemani boneka mainannya di rumah, televisi, video game, atau mungkin seorang pengasuh yang hanya bisa menggendong dan memberi makan si anak. Selain itu, hal-hal penting untuk pertumbuhan anak secara wajar tak pernah diperhatikannya, entah karena keterbatasannya atau karena memang bukan anaknya.

Sebenarnya orang-orang di sekitar kita, keluarga kita adalah “Tuhan” kita, mereka yang seharusnya kita beri seluruh diri kita, bukan sekadar menghibur mereka dengan gaji yang tinggi, jabatan yang penting, dan hal-hal lain yang sifatnya hanya sementara. Sebab Jika hanya hal-hal ini yang kita berikan kepada orang-orang kecintaan kita, kita tak lebih dari kaum Farisi yang hanya memberi dari sisa harta mereka yang tak terpakai kepada Tuhan, bukan iman, bukan cinta yang sesungguhnya. Karena itu, Yesus mengajak kita untuk meneladani seorang janda miskin. Walau pemberiannya di mata dunia tidaklah berarti, namun pemberiannya adalah yang paling benar dan paling didambakan, yakni cinta dan perhatian.

Jangalah takut memberi cinta dan perhatian, karena manusia tak pernah miskin atau kehabisan cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar