Ini terjadi di Manggarai, di daerah Ruteng yang berhawa dingin. Saya dengar cerita ini dari Krg Tos Djani. Ada mete ( tungguin mayat pria dewasa) . Seperti biasanya, orang bermain kartu sepanjang malam. Karena peserta untuk main kartu cukup banyak, sementara luas ruang tamu cukup sempit karena ditengah-tengahnya tempat pembaringan mayat, maka atas kesepakatan bersama para pemain kartu, maka mayat yang hanya diselimuti kain songke itu dipindahkan ke tikar di lutur itu, dibaringkan di sela-sela beberapa orang yang sudah tidur lelap di situ. Dengan demikian, ruang untuk bermain kartu menjadi cukup luas. Juga alasan, barangkali karena malam semakin larut, orang lebih cenderung fokus pada main kartu daripada ‘mayatnya’. Makin larut malam, makin juga datang para pemain kartunya, judi. Penerangan satu-satunya adalah lampu pelita dari kaleng susu bendera. Suhu malam amat dingin, ces agu menes ( hawa dingin dan terasa kedinginan).
Sebagaimana biasa, kain penutup mayat biasanya ‘towe songke terbaru’ yang jumlahnya minimal dua atau tiga, supaya mayat itu dapat di-klembuk (=nutup semuanya dari ujung kepala sampai ujung kaki ). Juga biasanya mayat sudah dipakaikan baju lengan panjang, celana panjang, lengkap dengan kaos kakinya.
Orang yg tidur berdampingan dengan mayat tidak tahu kalau mayat sudah dibaringkan berdampingan dengannya. Malam makin dingin, dia agak nempel badannya dengan yang sebelahnya ( mayat ). “Ole.. kau punya lipa tiga memang ta.., kasi saya pake satu e…” nyeletuknya. “Ole.. kau aman sekali e.. sudah lipanya dua, pake kaos kaki lagi, ae.. saya kasi keluar kau punya kaos kaki ta.., biar saya pake. Ole.. ilut toko de hau e.. kesa, toe keta huli cekoen”. Orang itu lalu memakai kaos kakinya. Tidurlah ia di samping rekannya itu, denan harapan bisa nyenyak. Tapi ternyata dia susah tidurnya, lalu dia bangun ( wengko towe songke sampai di kepala & dengan kaki berkaos ), lako hesot (=berpindah duduk dengan tanpa berdiri ) ke para pemain kartu yang lagi asyik judi, dan duduk jongkok di antara mereka, ingin nonton permainan kartu itu. Mukanya agak ditutupi dengan towe songke, sehingga tidak begitu jelas kelihatan. Yang amat jelas adalah kaos kaki putihnya dan kain songke barunya itu.
Menyadari ada poti yang lagi duduk di antara mereka, maka satu persatu para pemain kartu itu pergi. Kemana? Tidur. Tidur di mana ? di samping mayat yang sebenarnya. Biasanya kalau lagi asyik main kartu, fokus pandangan adalah ke arah kartu yang tergeletak di tikar saja, tidak ke arah wajah pemainnya. “ Wan kartu de hau ge ta !!!” begitu bentak salah seorang pemain yang masih tinggal, yang dimaksudkan ke teman yang duduk pakai kaos kaki putih itu (poti). “ Mana kartunya, toe maeng aku e.. kesa, saya hanya nonton saja”, dengan suara bas dia ( poti) menjawabnya. Mendengar itu, pemain tadi mengarahkan pandangannya ke arah kaos kakinya. Dia mulai memperhatikan, dalam hati dia berkata, “Ole.. kaos kaki hio ta.. itu ‘kan mayat punya!! Ole.. towe hio, itu kan mayat punya !!! Seketika itu dia berteriak, Oe.. Poti !! Poti!!! Poti !!! Semua orang bangun.
Jadinya kacau, karena mayat sebenarnya yang diletakkan diantara mereka tidak bangun, tetap tidur di lutur, sementara kaos kaki dan satu kain songkenya dipakai oleh orang yang masih hidup. Si orang yang hesot tadi juga heran, kenapa orang-orang ini takut saya? Lama kemudian, dialah yang orang terakhir yg berteriak takut dan nyaris pingsan, ketika telah menyadari kaos kaki dan towe songke yg dikenakannya itu dia ambil sendiri dari mayat. Ketakutan tahap kedua bagi mereka yang tadinya tidur, ketika mereka tahu bahwa mereka tadi tidur bersama mayat, bahkan sampai mereka kengko dengan paksa (=memban
Tidak ada komentar:
Posting Komentar