Tiranos tidak biasa rokok, tapi pagi hari terakhir di Jakarta , seb at ang Start Mill terjepit diantara bibirnya. Ia duduk di teras kamar. Isap sembur, isap sembur. Sebagian kepulan asap masuk ke kamar. Rosa yang sedang baca koran pagi, pijit-pijit hidungnya. Ada rasa sengak. Ia intip ke teras, Tiranos sedang menikm at i kesendirian. Rosa ing at:”Lelaki yang merokok setelah berhubungan merupakan tanda ia melakukannya terlalu cep at ”. Pagi itu memang Tiranos melakukannya demikian. Mungkin ia lagi merasa kalah set. Dengan cerm at Rosa cari tau. “Tuan, s at u orgasme sehari dap at menganggurkan dokter sebulan”, pancing Rosa. Tiranos geleng-geleng kepada sambil lepaskan semburan terakhir. Rosa dap at afirmasi. “Mungkin Tuan lupa minum ob at ?”, tanya Rosa. Tiranos langsung pukul dahinya sendiri sebagai petunjuk kambuh lagi penyakit lupanya.
Pagi itu Tiranos memang lebih sibuk pikirkan pertemuan dengan Pak Laka , di Manggala. Laka itu penguasa temporer hutan. Ia s at u orang penting yang selalu dikontak Tiranos. “Sie-sie Rosa. Penyakit saya diob at i”. K at a Tiranos. Sudah itu ia bersiap berangk at . Laka sudah tunggu di lobi kantor. “Hai Tiranos!”, sambut Laka. “Selam at pagi Pak”, salam Tiranos. “Wah kamu tampak segar sekali!”, basa-basi Laka. “Ada ob at nya Pak”, canda Tiranos. Mereka menuju ruang VIP kantor Laka.
“Bagaimana taman nasional kita?” Laka membuka pembicaraan lebih serius. Tiranos b at uk-b at uk kecil , sebelum jawab: “Bagaimana kita ng at urnya aja pak?” Laka tersenyum lebar. Kedua lelaki itu kemudian bahas tentang daya tarik Komodo. M at a dunia sedang mengarah ke sudut timur Indonesia itu. Komodo buas dan liar jadi sebuah keajaiban. Tanda betapa ku at nya hasr at bertahan sebuah kehidupan. “Yah…kebuasan dan keliaran itu bukan su at u kemewahan tetapi su at u kebutuhan spirit manusia”, komentar Laka. Tiranos angguk-angguk. “Ada s at u lagi pak yang bikin makin menarik untuk sa at ini”, k at a Tiranos. “Apa itu?” reaksi Laka. “Jaeknya”, jawab Tiranos. “ Hemmm….. jaek”, Laka tidak negerti. “Ya pak. Jaek itu bilur-bilur yang terus meleleh keluar di mulutnya at au ilur dalam bahasa kami”, jelas Tiranos. “Mengapa mereka jaek terus?” , Laka semakin ingin tau. “Belum ada penelitian Pak. Tapi seorang filsuf alam dari Wae M at a k at akan jaek komodo itu merupakan kompensasi karena mereka tidak dap at melakukan masturbasi sebab tangan mereka pendek. Kalau manusia tangan pendek seperti mereka pun pasti tidak bisa masturbasi “, jelas Tiranos. Keduanya ngakak hingga retot dan Laka langsung minta ijin ke belakang sejenak untuk tuntaskan.
Laka balik dari toilet sambil pegang tisu. Masih ada tawa yang tersisa dan linangan air m at a di kedua pelupuk. “Kamu Tiranos ada-ada saja’. K at anya sembari duduk lagi. “Yang lebih penting Pak, kalo kita berhasil kumpulkan jaek itu. Ob at alami paling manjur”, jelas Tiranos. “Ob at apa lagi?”, tanya Laka. “Itu pak. Ob at ku at untuk itu….”, lanjut Tiranos. Laka cep at tangkap . Namun ia minta bukti. Tiranos sharing pengalaman pribadi. Ia sudah sering minum jaek Komodo sebelum berhubungan. Dan itu sudah mencapai tingk at ketagihan sehingga begitu pagi tadi lupa sekali saja, ia tak bisa imbangi Rosa . “Kalo begitu, bagaimana kita sebar luaskan kasi at jaek Komodo itu?”, usul Laka. Tiranos setuju saja asal hak p at en milik bersama. Muncullah ide penangkaran Komodo untuk memudahkan koleksi jaeknya. Laka berpikir keras. Tidak lama kemudian ia kontak Cito,di bagian wis at a. Entah apa yang dikemukakan Cito, Laka angguk-angguk sambil tersenyum melih at ke arah Tiranos.
Tiranos tercengang ketika Laka berk at a:”Jika Bapak lahir miskin , itu bukan kekeliruan. Tetapi jika Bapak m at i miskin, itu kekeliruanmu”. Dengan cep at ia bereaksi:”Saya ingin m at i kaya Pak”. Tiranos gengsi kalau disebut keliru dalam perspektif Laka. Laka merasa sudah masuk idenya. Ia langsung beri kejutan baru. “Pak Tiranos, mau pensiun di Bali?”, tanyanya. Tiranos sungguh terkejut. “Dari mana Laka ini tau kalau saya sudah punya rencana seperti itu. Saya sudah beli rumah di sana ”, k at a Tiranos dalam h at i dengan pandangan bengong. Lih at Tiranos bengong, Laka pikir Tiranos tidak suka dengan Bali . Ia lalu serahkan pilihan kepada Tiranos. “Bukan begitu Pak. Saya suka Bali ”, k at a Tiranos kemudian. “Semua akan saya at ur”, tegas Laka pada pertemuan lanjutan di sebuah restoran mewah..
Dalam kelegaan, Tiranos pulang ke Hotel agak sore. Begitu pintu kamar terbuka, ia langsung menghambur masuk dan membuang diri ke temp at tidur. Tiranos membenamkan wajahnya ke bantal. Rosa antara kaget dan heran. Ia am at i dari dek at dan kemudian dengan pelan meletakkan tangan di punggung Tiranos. “Tuan ada apa Tuan, ada apa?”, bisiknya. Tak ada jalaban. Rosa tidak ingin maksa. Hanya tangannya terus mengelus punggung Tiranos. Ada rasa takut yang muncul:”Jangan-jangan Tiranos sudah tau hubungan laos cekoen dengan Pakjen”. Namun ia usir jauh-jauh kecurigaan itu. Ketika tangan Rosa sudah menyentuh belahan pant at , Tiranos merasa geli. Ia agak menggelinyang. Rosa tersenyum. “Mari kita selesaikan di kamar mandi”, ajak Tiranos yang tiba-tiba bangun sambil menarik tangan Rosa .
Di bawah sower air hang at Tiranos berdiri dengan pejamkan m at a. Rosa tau yang dia mau. Ia ambil sabun cair, gosok di tangan dan kemudian m at ikan sower pelan-pelan. Lalu ia mengoles sabun cair ke tubuh Tiranos. Mulai dari leher hingga ke perut. Tiranos menahan erangan.”Uhhh……” Rosa kemudian membungkuk, setengah duduk. Ia teruskan olesannya, lew at kan daerah tengah dan langsung mulai dari jari kaki. Ketika sampai di betis, Rosa tengadah. Ia lih at aliran darah Tiranos sedang mengalir deras ke daerah tengah. Ia tunduk lagi lalu terus ke paha. Ampong……wajahnya begitu dek at dengan daerah sentral itu dan endusan nafasnya memberi sensasi lain. Tiranos melakukan gerakan seakan cari sumber endusan itu dengan m at a terpejam. “Di mana kamu Ros….Ros….”, Tiranos seperti menggiau. Dan….tidak ada suara. Mulut Rosa terasa penuh . Tiranos melengguh , lemas dan kemudian terduduk di bak kamar mandi. Selesailah sudah…
Lama diam, Rosa kemudian dengan lembut tanya:”Tuan suka?”. Tiranos bisu dalam rasa nikm at tak terkira. Rosa setia menunggu dia di tepi bak kamar mandi. Begitu Tiranos buka m at a, ia lih at senyum Rosa senja itu teram at manis. Ia pun bangun dan peluk serta gendong Rosa. “Terima kasih “, bisiknya. M at a Tiranos berbinar-binar ketika k at akan bahwa Rosa b at al berangk at pulang dari Cengkareng. Rosa pulang via Denpasar. “Saya akan pensiun di Bali. Saya, Laka dan Cito akan pegang hak p at en jaek 10 ekor komododi di sana”, cerita Tiranos. Itulah yang membu at nya sang at girang sa at pulang tadi, yang semp at bu at Rosa salah sangka. “Saya kan sudah punya rumah di sana. Dengan jaek komodo, saya pun bisa ambil s at u lagi untuk kamu”, tambah Tiranos. Luapan gembira Rosa tidak tertahankan. Ia menyapu bibir Tiranos dengan mulutnya. Tak ada lagi k at a-k at a , hanya jaekkkkk yang keluar meleleh dari mulut mereka. Sementara negeri Komodo makin kering dan merana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar